Eid 20

Unprecedented Eid

This Eid will be an Eid that I remember a lot in the future. Unprecedented Ramadan with lots of things went on in the background. Unprecendented Eid with lots of wishes and hopes for the future.

I promise to cook more, to be as authentic as I could be, to be true to myself. First and foremost: to forgive myself for all the mistakes and regrets that I’ve made along the way. With that, hopefully, I could also have a bigger heart to apologize to others and to forgive people who did me wrong.

Eid 2020 is an unprecedented Eid. An Eid where I finally become kinder to myself despite many things.

Musim Semi di Masa Pandemi

Memutuskan meletakkan meja teh (chabudai) sejak 1 Maret

Tanggal 6 April lalu akhirnya pemerintah Jepang menyatakan keadaan darurat terkait Covid-19 di 6 prefektur. Tokyo salah satu yang berada di dalam keadaan darurat yang akan dilakukan sampai 6 Mei. Keadaan darurat ini ga sepenuhnya membuat Tokyo dan prefektur lainnya dalam kondisi lockdown seperti Wuhan, Itali, Perancis, ataupun New York. Jepang tidak punya landasan hukum untuk memberikan sanksi bagi penduduknya yang tidak menaati ‘himbauan’ pemerintah. Tapi bahasan ini lain soal dan bisa panjang sekali.

Untuk saya sendiri, dinyatakannya keadaan darurat ini tidak ada bedanya dengan kehidupan saya sejak awal Maret saat saya memulai karantina mandiri. Hari ini saya sudah memasuki hari ke-41 karantina. Sejak awal Maret saya bekerja dari rumah dan hanya keluar rumah seminggu sekali untuk berjalan kaki di sekitaran rumah atau belanja bahan makanan. Sisanya saya di rumah saja.

Saya orang yang sangat betah di rumah. Mengakui diri sebagai introvert membuat rumah adalah tempat teraman dan ternyaman di seluruh muka bumi untuk menghabiskan waktu. Tapi saya merasa dua tahun belakangan saya berubah. Saya masih introvert tentu saja, tapi saya lebih aktif bergerak dan menghabiskan setidaknya seminggu dua kali untuk ‘keluyuran’ dan menghabiskan waktu bersama orang lain untuk makan siang atau makan malam. Bisa dibilang saya lebih sosial ketimbang sebelumnya.

Sejak covid-19 mulai mewabah dan akhirnya dinyatakan sebagai pandemi, banyak kegiatan saya yang harus saya batalkan. Semua international business trip tentu saja dibatalkan, terutama setelah pengumuman keadaan darurat yang membuat warga negara non-Jepang akan ditolak masuk kembali jika meninggalkan Jepang setelah tanggal 3 April. Sejak awal Maret saya memang sudah membatalkan banyak hal, penerbangan domestik dan rencana jalan-jalan di pegunungan termasuk di antaranya. Saya bersikukuh mengkarantina diri meskipun masih banyak orang di Tokyo yang menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Saat sakura bersemi bulan lalu, orang-orang banyak yang pergi melihat sakura. Entah mereka bosan di rumah saja atau memang abai dengan situasi saat ini. Saya pun tak paham. Saya memilih untuk hanami di rumah dengan membeli batang sakura yang sampai sekarang masih awet meskipun sakuranya sudah rontok. Memasuki April, cuaca semakin bersahabat. Langit biru cerah, cuaca menghangat, dan angin bertiup lembut. Saya pun mulai menyimpan mantel tebal saya dan memggantinya dengan jaket musim semi berwarna khaki.

Musim semi memang salah satu musim terindah di Jepang yang sialnya adalah musim terburuk juga buat saya yang punya pollen allergy (kafunsho) dan harus mengkonsumi obat supaya bisa menjalani hari dengan normal kalau sedang keluar rumah. Tapi karena saya lebih sering di rumah, saya pikir ga masalah juga. Eh rupanya masih bermasalah juga karena saya hobi buka jendela dan duduk berjemur sambil ngeteh/ngopi dan baca buku di sisi jendela. Cuma ya tertolong lah dengan obatnya jadi saya ga terlalu merana-merana amat.

Memasuki tengah April, sakura jenis somei yoshimo sudah berguguran. Jadi sudah ga ada lagi pemandangan ala anime remaja. Sudah terganti menjadi pucuk-pucuk daun hijau. Di sisi lain, ceddar (sugi) juga sudah berhenti pollinating, jadi hidup saya pun semakin ringan. Karena hal-hal tersebut dan sebuah fakta bahwa saya recovered dengan baik setelah sakit bulan lalu, rasanya saya ingin piknik di taman atau pergi ke gunung. Yang paling saya rindukan adalah duduk di kafe outdoor sambil mengobrol atau kalau sendirian, sambil baca buku (yang kadang saya lakukan di taman). Tapi lagi-lagi, sepertinya itu bukan hal yang bijak dilakukan di kala pandemi. Akhirnya saya pun mesti berpuas diri untuk hanya membaca dan tidur siang sebentar di sisi jendela yang terkena cahaya matahari.

Mulai belajar baking demi memuaskan keinginan ngemil di kafe

Hampir setiap hari saat cerah saya pasti duduk di situ di sela-sela istirahat WFH yang semakin hari semakin fleksibel. Karena belakangan saya pun mulai belajar memanggang kue dan British scone, kegiatan duduk-duduk di dekat chabudai ini semakin meriah. Ditambah lagi saya pun punya hobi baru yaitu membeli bunga. Jadi ya sudah, jiwa saya seakan semakin menyatu dengan kombinasi bean bag dan chabudai di sisi jendela di hari yang hangat. Kalau sedang tidak membaca buku, kadang saya mendengarkan audiobook atau musik sambil menatap langit atau memandang dedaunan yang mulai tumbuh di pohon kesemek di kebun. Saking rileksnya, terkadang saya lupa di luar sana masih terjadi pandemi dan terkadang saya tergoda sekali untuk pergi jalan jauh atau naik kereta ke Shinjuku Gyoen hanya untuk tidur-tiduran di bawah salah satu pohon favorit saya.

Di musim semi di kala pandemi ini ada satu kalimat yang sering saya ucapkan “sungguh waktu yang aneh.” Karena memang rasanya aneh sekali hidup di saat seperti ini saat banyak hal yang terasa normal menjadi tidak boleh dilakukan dan hal-hal baru muncul menjadi sesuatu kenormalan yang baru. Waktu berjalan dengan aneh dan saya terus menghitung hari-hari yang saya habiskan di dalam rumah. Ini hari ke-41 dan musim dingin sudah berganti musim semi. Lalu saya terus berpikir jangan-jangan saya akan menyaksikan pergantian musim dari dalam rumah lagi yang ditandai dengan tumbuhnya hydrangea (ajisai) di kebun. Saya tidak berharap begitu, karena sebagai orang yang suka di rumah, saya mulai muak dengan keadaan ini. Meskipun di sisi lain, akhirnya saya bisa menjalani hari dengan lebih perlahan dan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar hal baru. Tapi saya berharap ini adalah pertama dan terakhir kalinya saya mengalami musim semi di masa pandemi. Yah tepatnya sih saya ga mau menghabiskan musim apapun dengan ada pandemi di luar sana.

Q1 2020

Processed with VSCO with a6 preset
Hanami at home

Q1 2020 was a weird period for me. I spent a great deal of January by being sick for an unknown reason. I fully stayed at home for two weeks and lost some kgs. After that, I managed to bounce back to normal and it was just in time to host my monthly home party. I connected to more people and I was feeling positive about 2020. I made travel plans up until August, both domestic and international, somewhat felt hopeful about many things.

January turned into February. At this time COVID-19 was still something that I only read on the news, but I managed to convince my boss that I should not go for an overseas business trip because I am susceptible to COVID-19 due to my immune condition. He granted my wish, so I gotta stay in Japan. It’s winter, my heart was warm, I laughed and smiled a lot. I planned to go for snowboarding, but I ended up traveling to other parts of Japan that don’t have snow. February was full of traveling, eating out, and spending time with my loved ones. I still managed to host a home party with more people and everyone seemed to enjoy it and sent me warm messages after that.

March. I realized that the situation on COVID-19 turned into something serious. I voluntarily quarantined myself and notified my employer on this and they are so supportive of that. At this time, the company has already imposed voluntary WFH. So, they also don’t see any problem with me being fully WFH. Entered the second week of March I fell ill with an unknown diagnosis. It deserves a separate post on how I ended up self-isolated myself quite rigorously as I suspect myself having a mild (but VERY ANNOYING AND TIRING) COVID-19. I spent a great deal of my time for napping, cooking, reading, and resting. At this point, I was on sick leaves for two weeks and recovered by the end of March.

March felt like a long stretched month for me. It was 31 days but the unfolding moments on that month itself were too many to mention. Spending 32 days on my own thoughts thinking about many things from my well-being (would I make it to my next birthday, what if my lungs get irreversible damage, etc), others’ wellbeing (are my family and friends alright, do they eat well, can they WFH), my relationship with others (is he the right one, could we survive this pandemic unscathed, texts from my exes), things that I miss (reading in the park, strolling in Yokohama waterfront, etc, etc), and many other things make me realize that this pandemic gives me time to exercise many things in my life. This pandemic pushes me to think about many other possibilities and thoughts that I never had before. Tbh, I am already tired of it and I wish life could just return to normal when March ended. But then, that’s not how life goes. So here I am on April 1, on my Day 32 of staying at home, feeling hopeful for the Q2 but restless at the same time.