2019

Stasiun MRT Blok M di akhir 2019

Di awal 2019 lalu saya tidak menulis postingan wajib awal tahun yaitu wrap up setahun sebelumnya: 2018. Alasannya cuma satu, salah satu adik saya meninggal di penghujung 2018. Setelah itu semua kebahagiaan dan pencapaian di 2018 tidak ada lagi yang relevan dalam hidup saya. Hidup saya mendadak gelap. Saya seperti kehilangan pijakan dalam hidup saya. Terdengar lebay? Mungkin iya buat beberapa orang. Tapi buat orang macam saya yang orang terdekat di keluarganya adalah si adik tersebut, hidup saya terasa luluh lantak. Dia bukan sekadar adik tapi juga teman buat saya. Kami dekat sekali, jadi kehilangan dia adalah hal yang sangat besar buat saya. Saya ingin menulis banyak soal dia, semacam obituari, tapi sampai saat ini masih belum bisa. Setelah setahun pun saya baru bisa menulis sebanyak ini soal dia di blog ini. Jadi begitulah, di akhir 2018, saya berduka.

Saya memulai awal 2019 dengan limbung. Kedukaan yang mendalam membuat saya menutus banyak hubungan saya dengan manusia-manusia lain. Ada yang saya lakukan dengan sengaja ada yang saya lakukan dengan tidak sengaja, murni karena hanya tidak mempunyai kapasitas emosional untuk beramah-tamah dengan orang lain.

2019 tahun yang berat. Entah bagaimana saya bisa lulus kuliah tepat waktu dengan GPA yang lumayan juga tetap punya pekerjaan. Saya makin jago memasak. Bahasa Jepang saya makin bagus. Kalau dipikir-pikir lagi saya bingung juga kenapa saya tetap bisa begitu di tengah ketidakwarasan saya sendiri. Tapi mungkin pencapaian terbesar saya adalah tetap hidup dan berusaha tidak menjadi orang brengsek yang berlindung di balik mental illnes. Saya paham bahwa orang di sekitar saya berperan penting untuk menolong saya tapi yang paling utama adalah saya mau menolong diri saya sendiri. Saya harus baik ke diri sendiri dan ke orang lain, meskipun ada juga momen saya menjadi orang brengsek yang menyebalkan (and I am really sorry for that).

Akhir 2019 saya akhirnya berbuat baik ke diri sendiri dengan mengambil cuti, tidak membawa laptop kantor, dan mematikan ponsel kantor. Saya terbang ke Jakarta, lalu pergi ke dua kota lain untuk menemui keluarga besar saya dan kembali ke Jakarta untuk menenmui teman-teman saya. Selama saya di Indonesia, saya berkontemplasi tentang hubungan saya dan orang-orang sekitar saya. Apa dan siapa yang membuat hidup saya layak dijalani. Orang-orang seperti apa yang saya inginkan di hidup saya dan hubungan seperti apa yang saya inginkan dengan mereka. Di akhir 2019 saya punya jawaban-jawaban (meskipun tidak semuanya) dari pertanyaan tersebut dan saya pun mengakhiri 2019 dengan nafas yang lebih ringan dibanding di awal 2019.

Di awal 2020, saya masih merasakan duka kehilangan tapi saya mulai menerima bahwa ini adalah proses yang naik turun dan saya pun boleh merasakan bahagia. Saya terbang kembali ke Tokyo sehari setelah tahun baru, kembali merasakan udara dingin Tokyo tapi juga mampu merasakan hangatnya sinar matahari musim dingin kali ini. Sungguh berbeda keadaannya dengan di awal 2019, saat itu saya cuma merasakan dingin yang menggigit dan langit yang kelabu. Saya tidak punya daftar keinginan panjang yang mesti dicapai di 2020. Di tahun ini saya cuma ingin lebih baik ke diri sendiri: istirahat di saat lelah, punya kehidupan personal-profesional yang lebih seimbang, dan lebih membuka diri ke orang lain.

Pemandangan musim dingin di daerah sekitar tempat tinggal saya

Dec 1

As usual, I did the mandatory walk in the neighborhood park to relax. I didn’t spend such a long time as usual since it’s kinda cold today. As the season changes, I have to skip my reading-in-the-park session for the next three months. Even though I enjoy making my own coffee (and mostly drink it black), these days I come more often to coffee shops just for the sake of reading and being outside so le fancy boy won’t call me a hikikomori. This will last a while until the weather becomes warmer in spring.

I will travel again this month. I’ve decided to travel every month when it’s possible. If it’s not possible, then I have to do my mandatory park walk or mandatory cafe visit at least once a week otherwise I always end up staying at home like a hikikomori which is not good for my mental health.

Living near a beautiful park brings a lot of advantages for my mental health. I have a solid reason to go out and to surround myself with the nature is a lot healthier way to relax rather than to lie down at home all day. A close proximity to a park is now one of my criteria when choosing a house/apartment. A modern and beautiful house in the centre of Tokyo will get a hard pass from me when I find out that it’s nowhere near a big park. I like my dose of trees.

Quaint

I have been spending a lot of my free time in this park of my neighborhood. It’s getting colder these days, so it’s getting more difficult to sit and read there at night. But in a sunny day, sitting in the lake side, reading while sipping a warm tea is still my favorite thing to do on weekend.

This park has been an important part of my life for many reasons. It becomes a place where I go when I need to recharge. A slow walk in the park before or after work is a bulletproof recipe to fix my day. I almost move to a new place but I am so reluctant to leave this view so I decided to cancel it.

I still consider to move somewhere near my office. But first: I need to find a good park where I can sit and read comfortably day and night. After finding a little oasis like this, I will move. Otherwise, I will keep living in this neighborhood.

Musim Panas 2019

This slideshow requires JavaScript.

Seumur-umur hidup di Jepang belum pernah pergi nonton kembang api. Musim dingin tahun lalu sempat nyaris nonton kembang api bareng le fancy boy, tapi karena cuaca buruk akhirnya dibatalkan. Kami berakhir ngopi, ngemil, dan makan sampai akhirnya pulang sekitar jam 9-an malam. Waktu itu padahal udah jauh-jauh pula ke kota sebelah yang sebenarnya ga di sebelah-sebelah amat.

Musim panas tahun lalu tetap ga nonton kembang api juga karena… lupa sih karena apa. Yang jelas malah nyaris nonton kembang api sama R di Sumida tapi karena mager kebanyakan orang, akhirnya ku malah ga jadi pergi. Sempat diajak nonton kembang api di Ome oleh seorang dedek-dedek, sudah kuiyakan tapi di menit-menit terakhir kubatalkan setelah ku sadar sepertinya dia naksir padaku waktu dia bilang “kan rame banget tuh pas kembang api, kalau aku gandeng gapapa, kan?” Langsung spontan ku bilang “ano, e…tooo, sumimasen desu ga….” Jadi akhirnya tahun lalu terlewat begitu sajalah semua acara kembang api gitu.

Tahun ini le fancy boy punya ide bagus: nonton kembang api tapi ga di Tokyo. Di Nagaoka aja gitu dan beli lah dia tiket nonton kembang api bulan Agustus sejak bulan Mei. Sungguh pria idaman bukan. Nyaris aja ini acara nonton kembang api gagal karena diriku ini harus business trip kurang lebih sebulan di dua negara. Untungnya (atau tidak untung), karena sakit mulu (tepatnya dua kali food poisoning) di luar Jepang akhirnya dipulangkan ke Jepang lebih cepat dan salah satu rekan kerja menggantikan business trip. Karena hal itu akhirnya bisa sampai Jepang seminggu lebih cepat dari jadwal dan bisa nonton kembang api. Tadinya udah bingung aja menyampaikan kabar sambil mau minta maaf karena ga bisa di Jepang di hari festival kembang api.

Bodohnya lagi, udah sampai Jepang malah kena flu dan bed rest semingguan. Di hari festival nyaris aja udah ga mau pergi tapi ku bela-belain karena mikirnya kan duduk doang gitu. Iya, duduk doang, ga berdiri karena dibeliin tiket yang di tengah-tengah dan duduk gitu. Slotnya bisa buat enam orang pula sebenarnya, jadi mau rebahan juga sebenarnya bisa aja kalau mau. Hari itu lumayan sejuk juga sebenarnya. Entah emang sejuk atau karena adanya di pinggir sungai dan ga dikeliling gedung, jadi meskipun banyak orang tetap ga sumpek. Beda sekali dengan pengalaman nonton kembang api di Jakarta yang sumpek dan bikin mata perih. Lalu mulailah kembang api pertama dan wow bagus banget. Awalnya kirain akan bosan ya dua jam lihat kembang api tapi ternyata ga bosan. Rasanya kayak pergi ke TeamLab tapi outdoor dan live gitu. Beneran visually pleasing. Kembang apinya besar banget dan ada beberapa yang diiringi lagu. Setelah selesai langsung bengong bego karena rasanya masih pingin lihat gitu.

Jadi akhirnya musim panas kali ini kesampaian juga nonton festival kembang api meskipun ga pakai yukata. Kayaknya ribet dan malas juga sih kalau mesti pakai yukata. Karena jalannya agak jauh gitu buat ke tempat kembang apinya (jalanannya udah steril dari mobil). Ditanya juga kan “udah cukup nonton kembang apinya atau mau nonton lagi?” yang ku jawab “mau nonton lagi!” Karena masih awal Agustus maish ada beberapa pertunjukan kembang api di seluruh Jepang, bahkan di Tokyo pun masih ada beberapa gitu. Di akhir pekan ini kayaknya ada satu-dua lah. Tapi mungkin untuk tahun ini, udahan dulu nonton kembang apinya. Karena ku tak sanggup kalau nonton kembang api gratisan dan harus berdesakan jumawa. Jadi ya udah nonton lagi tahun depan sambil duduk-duduk dan minum infused water lagi.