Winter

20180127_165649_HDR
Winter

It’s still snowing here.

Advertisements

Never Enough

Take my hand
Will you share this with me?
‘Cause darling without you
All the shine of a thousand spotlights
All the stars we steal from the night sky​
Will never be enough
Never be enough
Never be enough for me

These hands could hold the world, but it’ll never be enough.

Chicken Oppa

Somewhere around midnight a few days ago, Mbak Desti messaged me. I didn’t read the messages immediately as I was doing something else. In the morning finally, I read her messages: a YouTube link and a short message “May this bless your ears. And eyes.”

I had to finish two assignments that morning but I decided to watch the link even before I left my bed.

It was AWESOME. Hahahahahaha. I have watched many of his videos because it really made my day. OMG, never had I ever thought that I would be obsessed with a guy with dark clothes and a rubber chicken 🙄

Curhat Soal (Mencari) Kerja

Buzzwords yang sedang ngetrend di sekitar saja sejak bulan lalu adalah: job-hunting alias shukatsu (就活) kalau dalam bahasa Jepang alias mencari kerja kalau dalam bahasa Indonesia. Di Jepang, rata-rata mahasiswa sudah mulai mencari kerja saat memasuki tahun terakhir di masa kuliahnya. Jadi, saat lulus biasanya mereka sudah langsung bekerja. Meskipun demikian, saya punya teman super selo yang baru serius shukatsu setelah dia lulus dan baru bekerja enam bulan setelahnya. Dia yang tadinya selo, ternyata jadi stress juga waktu liat teman-temannya sudah bekerja sementara dia belum.

Saya sendiri sebenarnya masih di tahun pertama kuliah, jadi mestinya belum ribet shukatsu. Tapi dua teman main saya di sini, satu anak tahun kedua dan satunya lagi di program setahun, sudah ribet shukatsu sejak Oktober lalu. Yang anak tahun kedua akhirnya sudah dapat tawaran di salah satu bank dan yang satunya sedang proses wawancara di salah satu perusahaan alat berat. Untuk saya sendiri saat ini sedang ribet mencari magang. Karena magang di Jepang juga salah satu jalan pembuka untuk mendapatkan tawaran pekerjaan tetap sebelum lulus nanti.

Saya ngerti sih nyari kerja di mana aja susah. Tapi sebagai orang asing dengan kemampuan bahasa Jepang pas-pasan saya merasa nyari kerja di sini kok susah amat ya. Beberapa kali sebenarnya saya dihubungi oleh headhunter via LinkedIn untuk tawaran wawancara, tapi saya tolak karena saat ini saya masih dalam masa studi dan belum akan bekerja dalam waktu dekat. Alasan lainnya karena beberapa posisi membutuhkan bahasa Jepang dalam business level yang belum bisa saya penuhi.

Ngomongin soal mencari kerja, saya sebenarnya nggak banyak pengalaman soal ini. Waktu S1 dulu, yang saya tahu cuma dua hal: nyari kerja via career service kampus (tiba-tiba lupa websitenya apa) dan via job fair. Saya dulu dapat kerja via job fair. Datang job fair, drop CV di perusahaan yang menarik hati, kemudian menunggu dipanggil untuk seleksi selanjutnya. Waktu mencari kerja dulu, saya juga belum lulus. Posisinya saya masih mengerjakan skripsi. Saya kemudian tanda tangan kontrak kerja sebelum saya lulus dan saya mulai bekerja dua hari setelah saya wisuda. Setelah itu saya nggak pernah pindah kerja, jadi saya nggak terlalu ingat gimana cara kirim lamaran dan wawancara kerja. Wawancara terakhir yang saya jalani adalah wawancara untuk masuk kuliah di Februari 2017.

Awal masuk kuliah S2, kampus saya sudah mulai memperkenalkan career service baik untuk yang nyari kerja ataupun magang. Sejak masuk, saya sudah mendaftarkan diri ke career service kampus, termasuk mengirimkan resume saya. Di tengah sibuk adaptasi dengan lingkungan baru, saya juga sibuk mencari peluang magang yang sekiranya akan memudahkan saya dalam mencari kerja tetap.

Yang saya tahu, mencari kerja di sini sih bisa dari job fair, campus recruitment, atau via situs mencari kerja. Tapi kebanyakan sih via job fair yang diadakan tiap beberapa periode sekali. Kalau di Indonesia, kebanyakan yang datang job fair bisa pakai baju santai kayak di pantai. Saya juga dulu datang pakai pakaian casual. Kalau di sini, datang job fair = suit up. Suit up-nya pun nggak sembarangan suit up, tapi harus memenuhi aturan umum yang berlaku untuk pencari kerja seperti gambar di bawah ini.

Ini gaya standard untuk para pencari kerja di Jepang: rambut hitam, suit hitam, kemeja putih, sepatu hitam, dan tas hitam. Biasanya yang rambutnya warna-warni akan mengecat rambutnya menjadi hitam di masa-masa ini. Soal tas, lupakan deh bawa tas branded, keseragaman adalah kunci. Kenapa mesti seragam gini? Katanya sih biar yang merekrut nggak pusing dan silau dengan tampilan luar, hahaha. Karena kalau kayak begini kan akan sama semua dan (katanya) sih yang akan dilihat adalah potensi dan kemampuan yang bisa ditawarkan.

Untuk CV atau resume, tiap perusahaan sebenarnya punya ketentuan yang beda, tapi rata-rata mereka minta Japanese resume alias reirikisho yang isinya detail banget. Kalau resume biasa cuma ngomongin latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, reirikisho ini bahkan nanya alasan berhenti kerja, punya dependant atau nggak. Ada pula PR section yang mengharuskan pelamar menulis kelebihan-kelebihannya juga motivasi dalam melamar posisi tersebut. Dari tiga perusahaan yang saya lamar, ada satu yang meminta reirikisho dan akhirnya saya menghabiskan waktu seharian (dan seminggu bolak-balik revisi) untuk membuat reirikisho tersebut.

Dari tiga perusahaan yang saya lamar (satu via website perusahaan tersebut dan dua via career service kampus), saya dikabari oleh dua perusahaan untuk menjadwalkan wawancara dan satu perusahaan untuk datang ke acara perkenalan perusahaan tersebut. Berhubung saya nggak ada pengalaman wawancara untuk magang, saya akhirnya tanya ke teman saya yang tahun lalu pernah magang. Dia bilang sih akan sama dengan wawancara kerja, jadi kalau bisa sih persiapkan dengan baik. Sekiranya diterima magang dan dapat feedback bagus, biasanya akan ditawari untuk bekerja tetap di tahun berikutnya. Jadi, magang ini bisa jadi salah satu langkah strategis untuk securing pekerjaan sebelum lulus.

Saya sebenarnya kurang pede mencari kerja di Jepang. Soalnya bahasa Jepang saya pas-pasan dan saya mencolok sekali (saya kan orang asing). Bisa aja sih dengan kemampuan bahasa Jepang nol untuk kerja di sini, tapi biasanya punya IT skills yang mumpuni. Lah, saya emang nggak gaptek, tapi kalau situ nyuruh saya jadi software engineer ya sama aja kayak nyuruh saya bikin Prambanan dalam semalam. Tanpa bantuan gaib, semua itu akan mustahil saja. Belum lagi di usia segini, mungkin perusahaan juga enggan merekrut saya. Karena pikiran-pikiran tersebut, saya sampai kepikiran untuk balik ke Indonesia saja sehabis lulus nanti. Apalagi kan budaya kerja di sini juga ya cukup menantang. Ya sebenarnya sama aja sih kayak waktu kerja kemarin (kan bank Jepang), isinya pasti lembur dan kerja kerja kerja udah macam mottonya Jokowi. Tapi paling nggak, kalau di Indonesia tuh masih bisa lah ngobrol-ngobrol dan ngemil di jam kerja. Di sini sih ya mana boleeeeh begitu. Kalau kata teman saya yang akuntan di sini, “wah bisa digampar ama boss kali kalau di jam kerja ngemil sambil pake headphone.” Si teman yang akutan ini akhirnya berhenti kerja di akhir tahun lalu dan beralih profesi jadi fotografer. Kalau kata dia, “capek lah kerja kayak kesetanan mulu. Mau santai-santai dulu sambil mikir enaknya ngapain.”

Teman lain, yang sempat kerja jadi software engineer di Tokyo, pun cerita kalau dia mumet banget kerja di Tokyo. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mencari kerja di kota lain yang lebih kecil dan hidup tenang di sana. Saya sering banget mikir, apakah saya harus kerja di sini atau balik aja, berhubung mental damage-nya kok kayaknya gede banget kalau kerja di sini. Tapi kemudian saya juga sadar, hadeuh, wawancara aja belum kok udah pusing mau kerja di mana.

Saya jadi ingat pertanyaan yang umum ditanyakan saat wawancara: lima tahun lagi mau ngapain?

Ngapain ya? Mungkin santai-santai sambil brunch dan pilates. Kadang-kadang mengundang teman untuk pemotretan dengan gaya fashion terkini.

Pinginnya sih begitu ya, tapi tampaknya lima tahun lagi pun saya masih bekerja dan mungkin galau mikirin kerjaan. After all, I think, despite of how tiring it is, I like to work.