Walking Down the Memory Lane

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I’m sorry

Advertisements

Kerja dari Rumah

Alkisah karena suatu keajaiban alam, saya akhirnya jadi mbak-mbak kantoran di Tokyo. Jangan bayangkan kalau penampilan saya macam di bawah ini. Karena 1) tampang saya ga mirip Haruka Ayase dan 2) dress code kantor saya ga begitu.

851864_615.jpg
Dari hasil Googling. Bukan saya.

Sehari-hari di kantor pakai baju santai aja. Kadang pakai blus, kadang pakai kaos. Kadang pakai sepatu formal, tapi lebih sering pakai sneaker. Rekan kerja di kantor tampilannya pun begitu, kecuali kalau mau meeting sama orang penting dari mana gitu baru deh itu kakak-kakak langsung berubah tampilan dari pakai celana pendek dan sandalan jadi pakai jas dan sepatu pantopel. Kadang sampai menahan diri untuk ga ngeliatin kakak-kakak yang tiba-tiba berubah jadi ganteng beberapa kali lipat itu.

Jadi awalnya saya kerja di kantor seperti manusia pada umumnya. Berangkat pagi-pagi dari rumah, naik kereta jalur Chuo yang padatnya ampun-ampunan. Pernah lihat berita soal kereta Jepang yang orangnya didorong-dorong masuk itu? Yang berdiri di dalam kererta desak-desakan mirip ikan sarden tapi vertikal kayak gitu? Ya begitu itu kereta komuter saya. Karena saya sukanya tinggal di tempat sepi (saya tinggal di perkampungan bagian barat Tokyo, kecamatan Tiga Elang), walhasil lah saya harus menempuh kurang lebih sejam dan pake transit segala di stasiun Air Teh yang berisi kakak-kakak pake jas hitam ala Men in Black.

42516486_10211032488362326_1361029476305076224_o
Kakak yang pakai kemeja putih biasanya pakai kaos hitam. Tapi hari itu dia suit-up.

Kerja di kantor sih enak nggak enak sebenarnya. Enaknya lumayan lah ngadem, soalnya pas musim panas kemarin panasnya hina banget. Udah gitu lumayan juga cuci mata di jalan dan di kantor. Karena kantor saya tuh venture company gitu, duduknya bebas deh terserah mau di mana aja. Jadi kerjaan saya tiap datang dan mau pulang adalah gotong-gotong monitor dari loker ke meja mana aja yang kosong. Ga enaknya? Males commute. Kadang males kerja juga tapi harus tetap keliatan kerja. Cuma ya sebenernya banyakan enaknya sih pergi ke kantor itu.

Alkisah pada akhirnya musim berganti. Mirip Cinderella yang harus pulang ke rumah, saya pun bilang sama atasan saya “Pak, sudah mau masuk musim gugur, saya harus lanjut menempuh ilmu di Pegunungan Wolu Segoro sana.” Terus atasan saya kaget dan mukanya semacam zoom in zoom out pane in pane out. “Kirain kamu akan di sini selama-lamanya,” kata atasan saya. “Benar ku mencintai kantor ini, tapi tak begini,” kata saya. Lalu akhirnya setelah bujuk rayu yang panjang, akhirnya saya terbujuk untuk lanjut bekerja, wkwkwkwkw. Tapi ada syaratnya yaitu saya kerja dari rumah saya di Pegunungan Wolu Segoro, kecamatan Sawah Anyar Lemah Ireng. Atasan saya yang sedang kekurangan pendekar akhirnya mengiyakan permintaan saya. Ya diiyakan sajalah ketimbang pusing karena ga bisa minta bantuan jin macam Bandung Bondowoso. Jadi ya sudah, masuk musim gugur akhirnya saya pulang ke padepokan saya dan bekerja dari sana. Rumah di Tokyo sebenarnya masih saya tinggali juga karena niat awalnya saya mau empat hari di Tokyo dan tiga hari di gunung. Tapi rupanya saya capek dan malas, akhirnya saya lebih sering di gunung dan jadilah itu kamar di rumah Tokyo kosong aja.

Awalnya saya sering suram kerja dari rumah. Karena mesti disiplin sekali sama diri sendiri. Saya setting pojokan padepokan saya jadi pojokan kerja. Di pojokan situ cuma boleh kerja. Ga boleh makan (ngopi boleh), ga boleh mainan yutub, ga boleh nonton ataupun rekreasi lain deh (dengerin musik boleh). Di situ cuma boleh dua: kerja atau belajar. Tiap pagi harus tetap bangun pagi, sarapan, dan ganti baju udah kayak mau pergi kerja atau kuliah. Ga adalah itu bentukan kucel meskipun di rumah. Lha wong mesti meeting juga via concall, mosok kucel.

Kesureman kerja dari rumah adalah kenyataan bahwa saya nyaris ga punya social life. Tinggal di gunung dan terisolasi gini kemudian cuma kerja dan kuliah. Saya jarang banget lah keluyuran sama manusia-manusia lain. Kalau di kampus lagi rehat pun saya pakai kerja. Kalau di rumah lagi ga kerja atau belajar, ya saya pergi belanja atau keluyuran sendiri. Teman? Teman saya banyakan di Tokyo. Pacar? Pacar saya juga di Tokyo. Lalu karena saya lagi malas banget pergi ke Tokyo (karena mager commute dan pingin tidur doang kalau akhir pekan), akhirnya kebanyakan komunikasi ke orang terdekat cuma via suara atau layar. Dari sisi kerjaan, saya ketinggalan banyak social info dan acara kumpul-kumpul di kantor. Meskipun tiap hari saya selalu berkomunikasi ke rekan setim saya, tapi saya jarang komunikasi dengan rekan kerja satu departemen. Terlebih lagi sama yang beda departemen macam si kakak-kakak insinyur menawan itu, makin dah ga ada komunikasi sama mereka. Surem juga kadang karena kalau yang ga tau saya sebenarnya kerja dari rumah mungkin dikiranya saya otaku yang hikkikomori aja.

This slideshow requires JavaScript.

Enaknya kerja dari rumah apa? Banyak. Kalau mau malas-malasan bisa banget. Mau bobo bobo ciang juga bisa banget. Tapi saya tau diri, kalau bobo ciang pasti nanti bablas. Jadi palingan minum kopi aja deh sampe bego. Enaknya lagi kalau kerja dari rumah, kalau lagi males bisa ditinggal baca buku kek, main sosmed kek, atau ngapain lah. Kerjaannya dikerjain malam-malam juga bisa asal beres aja (dan check in – check out tetap di jam normal). Terusnya ga perlu pusing mikirin commute jauh-jauh, tinggal jalan aja dari kasur ke meja kerja. Kalau lagi malas kerja dari rumah ya pergi aja ke mana lah gitu macam ke kafe. Minggu lalu malahan saya kerja dari Kyoto. Kerja dari shinkansen atau bus juga kadang dilakukan kalau harus pergi ke mana gitu lah.

Belakangan ini saya makin betah kerja dari rumah. Padahal kemarin-kemarin surem hawanya pingin di kantor aja. Sekarang sih senang. Mungkin dasarnya saya emang bakat banget jadi hikkikomori kali. Kalau lagi ga harus kuliah atau pergi belanja bahan makanan, saya ya di rumah doang. Apalagi sekarang saya hampir selalu masak, makin lah saya ga keluar rumah. Saya pikir hidup kayak begini enak juga. Sungguh bebas dari drama dan interaksi ga penting. Yang namanya drama kantor pasti kan ada, tapi kalau dibanding waktu di Jakarta dulu, dramanya ga sebanyak itu. Ditambah lagi sekarang saya ga pergi ke kantor makin deh ga terekspos ini itu. Bahkan atasan saya pun ngecek kerjaan saya palingan dua minggu sekali aja :)))) Sungguh lah, kerja dari rumah ini cocok sekali untuk orang macam saya.

Karena penasaran soal ini, akhirnya saya bikin polling di IG Story dengan pertanyaan “Work from home? Yes or No?” Karena baru dibuat beberapa jam lalu jadi belum ada kesimpulannya deh. Tapi sejauh ini sih seri dan ada beberapa yang kirim DM komen kalau mereka ga bisa banget kerja dari rumah karena pasti hawanya mau tidur.

Kembali ke Dapur

Tahun lalu saya bilang ke teman saya kalau saya ingin pindah tempat tinggal ke tempat yang memiliki dapur. Saat itu saya masih tinggal di kost di Setiabudi. Kostnya punya dapur bersama, jadi kadang saya memakainya untuk memasak masakan sederhana semacam nasi goreng atau membuat sirup madu jahe. Teman saya bertanya kenapa saya tiba-tiba ingin sekali memasak toh sebenarnya selama ini makanan saya pun sudah cukup sehat karena berasal dari jasa catering tertentu. Saya cuma bilang saya ingin memasak saja.

Tidak lama setelah obrolan itu, ndilalahnya saya pindahan ke Jepang. Tempat tinggal pertama saya asrama dengan kamar mandi dalam tapi dapur dan mesin cuci bersama. Di awal-awal kuliah saya mencoba untuk memasak tapi karena banyak alasan akhirnya saya menyerah dan selalu mengandalkan kantin kampus. April kemarin saya mulai muak makan di kantin kampus yang menunya itu-itu saja tapi saya pun masih enggan untuk turun ke dapur. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli oven toaster. Jadi sesekali saya memasak apapun yang bisa dimasak dengan oven toaster, microwave, dan rice cooker. Tapi ya tetap aja sih, tiap ditanya saya selalu bilang kalau saya ga bisa dan ga minat memasak.

Masih di bulan yang sama, akhirnya saya menemukan tempat tinggal baru yang akan saya tempati di Juni. Sebuah rumah lama di Mitaka. Rumahnya berdapur dan punya perkakas masak yang cukup lengkap yang boleh saya pakai. Tapi lagi-lagi, saat itu saya masih ga yakin kalau saya akan memasak. Saya sempat mikir bahwa kehidupan saya akan bergantung pada toko bento.

Bulan Mei tiba dan sehari sebelum saya menginjak kepala tiga, saya menghabiskan waktu dengan ngobrol panjang dengan K-san, seorang koki Michelin star yang memutuskan meninggalkan dunia Michelin dan membuka restoran suka-suka di pulau Sado. Obrolannya panjang, tapi kebanyakan soal dapur dan memasak. K-san bilang memasak itu seperti sesuatu yang alami buat dia dan dia tidak suka kulkasnya penuh. Artinya dia hanya memasak dari bahan-bahan yang dia beli atau panen hari itu. K-san berpesan ke saya “Mulailah memasak. Dimulai dari yang sederhana saja. Lama-lama kamu terbiasa dan kamu akan merasa lebih nyaman dengan dapur. Nanti kalau kamu datang lagi ke sini, kita bisa petik sayur di kebun dan memasak bersama-sama.”

Bulan Juni datang dan saya sibuk sekali. Sekitar tiga minggu saya hanya makan untuk bertahan hidup saja. Kopi, air kelapa, dan cemilan energi adalah andalan saya. Saya kehilangan sekitar 1.5 kg berat badan karena itu. Lalu tibalah saatnya untuk pindahan ke Mitaka. M-san, pemilik rumah, bilang saya bebas pakai apapun di rumah. Tapi saya masih malu-malu dan saya pun masih tidak biasa memasak. Seminggu pertama saya habiskan dengan makan di luar. Baru di minggu kedua saya mulai sedikit memasak: pasta dengan saus tomat yang saya beli di pasar swalayan. Sedikit-sedikit saya mulai memasak, meskipun awalnya banyak mengandalkan bumbu jadi. Kemudian saya mulai mengumpulkan bahan-bahan dan membuat bumbu sendiri. Teman serumah lainnya, N-san, akhirnya sering kebagian mencicipi masakan saya yang aneh-aneh.

Di bulan Juli, saya mulai menghabiskan banyak waktu di dapur. Setiap malam saya selalu memasak. Awalnya masakan yang sederhana, lama-lama saya merambah sampai ke cemilan semacam bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam. Awalnya hanya masakan Indonesia semacam tumisan dan gorengan. Tapi belakangan pun saya mulai memasak masakan Viet Nam dan Thailand. Resep saya dapat dari Cookpad dan kadang pun bertanya ke Kitin via WhatsApp.

 

 

20180628_180802_0094
Mango sticky rice 🙂

 

Karena setiap hari saya memasak masakan Indonesia, M-san bilang ke N-san mungkin saya sedang homesick. Lalu saya bilang ke N-san, saya sedang tidak homesick, tapi saya ingin makan-makanan Indonesia yang sayangnya mahal kalau membeli di restoran. M-san dan N-san semacam menjadi saksi bagaimana kemampuan memasak saya berkembang dalam sebulan ini. Dari awal hanya menggunakan bumbu jadi sampai akhirnya saya meracik bumbu sendiri. Saya pun mulai nyaman memasak masakan yang lebih rumit dan hampir setiap pekan kami membuat semacam pesta kecil. Mereka membeli bahan makanan dan membersihkan perkakas, sementara saya memasak.

Terkadang ada hari di saat saya lelah sekali bekerja dan menghabiskan sejam di jalan untuk pulang. Tapi dapur memberi saya energi.  Dapur membuat saya merasa saya di “rumah” dan memasak membuat saya tenang. Kemudian, setelah sekian lama, akhirnya saya merasa pulang.


Ternyata di 2010 pun saya menulis soal dapur. Sepertinya Jepang membuat saya suka memasak 🙂

Summer Bliss

Recently I move from my hill-side view room in the rural ski resort area to an old house in the quiet neighborhood of Tokyo (formally not a part of 23 Tokyo special wards). I live on​ the second floor, in a room with two big windows facing the backyard and the street. The floor is tatami and my closets are big old closets, something that Doraemon would love to be if he visited my room.

I have three housemates; M-san the head editor and also the head of the ​house, N-san the designer, and Chiko-chan the cat. M-san and Chiko live on the first floor, while N-san and I live on the second floor. The house reminds me of many things from Japanese anime or drama that I’ve watched before: Nobita’s room with Doraemon’s closets, Hotaru no Hikari’s house with the porch and back garden, and Chii’s Sweet Home as we live with Chiko-chan.

36255757_10210509469447180_8402126053081874432_n-2
Chiko, the super shy cat

My favorite​ part of the house is, of course,​ my room, a simple tatami room with a bed and low table. I can see the full moon from my room and I usually open my window when I sleep to get the cool air instead of using the ​air conditioner.

This slideshow requires JavaScript.

Another favorite​ part is the small porch​​ facing the small garden and the persimmon tree. Sometimes if I have time and when everyone already leaves the house, I have my breakfast in the porch.

This slideshow requires JavaScript.

 

But normally, I will have my meals at​ our dining table.

This slideshow requires JavaScript.

Another thing that I love from the house and the neighbourhood is it’s very quiet eventhough it’s close to stations, department stores, cafes, and parks. I can walk and jog around the area without feeling anxious. It’s also only 30 minutes away by walk from one of my favourite museums: the Ghibli Museum. The downside is I have to commute for an hour to the office with the transit options between Shinjuku or Iidabashi. While I am fine with Iidabashi, the service is more frequent from Shinjuku, so it’s more convenient to go to change from Shinjuku. But, I hate Shinjuku 😥 Another downside is because it’s an old house, my windows rattle when the wind is too strong. So sometimes I can’t sleep well because of that. However, despite the downsides, I love this house and the people (and cat) whom I live with. Summer feels more bearable and it feels like back home when the weather is always sunny and the sky is always blue.