0

Not a Bad Thing

Said all I want from you is to see you tomorrow
And every tomorrow, maybe you’ll let me borrow your heart
And is it too much to ask for every Sunday
And if I were radical and every other day to start

not-a-bad-thing-at-all

Believe me, it’s not a bad thing to fall in love with me. But, I think it’s a bad thing to fall in love with you :lol:

0

Abu

Sudah hampir pukul dua belas siang dan tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Aku melongok ke ruangannya dan dia sudah tidak ada. Aku sudah mengirimkan pesan ke ponselnya, tapi masih juga tidak ada jawaban. Aku enggan meneleponnya. Aku tidak suka menelepon kecuali memang ada hal penting yang akan aku sampaikan dan ini bukan hal penting, cuma persoalan makan siang. Aku juga enggan bertanya ke teman sedepartemennya ke mana dia pergi, jadi ya sudah, aku pun meninggalkan kantor dan pergi makan siang sendiri.

Tadi pagi dia ada, dia mampir ke mejaku untuk meminta obat sakit kepala. Apa jangan-jangan dia pulang cepat karena sakit? Tapi, seharusnya dia memberi tahuku kalau dia memang pulang cepat atau pergi ke rumah sakit.

Bukannya aku tidak bisa pergi makan siang sendiri. Hanya saja aku sudah terbiasa makan siang bersamanya. Aku terbiasa menunggu dia menghampiri mejaku untuk pergi makan siang bersama atau mengirimkan pesan padaku kalau dia memang tidak bisa makan siang bersama karena dia harus pergi menemui klien atau apa. Tapi hari ini dia tidak memberi kabar sama sekali.

Makananku sudah habis dan aku masih bertanya-tanya ke mana dia pergi siang ini. Dia masih belum membalas pesanku. Aku masih punya istirahat setengah jam lagi. Tapi aku memutuskan untuk kembali ke kantor saja. Aku melewati ruangannya dan melirik ke arah mejanya. Mejanya masih kosong, tapi tiga layar komputernya sepertinya masih menyala. Oh, mungkin dia tidak pulang cepat. Mungkin ke rumah sakit sebentar atau menemui klien.

Sudah pukul satu siang dan dia masih belum membalas pesanku. Sudahlah, lebih baik aku bekerja saja ketimbang menghabiskan waktuku memikirkan ke mana dia pergi.

Aku sedang dibuat pusing dengan dokumen yang aku kerjakan saat tiba-tiba ada segelas es kopi diletakkan di sebelahku.

“Mau es kopi?” tanya sesosok jangkung di sebelahku. Ia menarik kursi kosong dan duduk.

“Mau. Habis dari mana?” tanyaku.

“Ini,” ia menunjuk dahinya.

“Apa?” aku menyibak rambut yang menutupi dahinya. Ada tanda salib abu-abu di dahinya.

“Tadi buru-buru takut kena macet, jadi lupa kasih tahu. Makanya ini bawa es kopi buat sogokan.”

“Iya, nggak apa-apa. Gue lupa ini Rabu Abu.”

“Jadi, ga marah kan? Kalau gitu gue kerja dulu, udah setengah dua lewat.”

“Eh, setengah duaa lewat?? Ya udah, sana-sana, kerja!” ujarku sambil beranjak dari kursi dan meninggalkannya.

Dia tersenyum, beranjak dari kursinya dan pergi ke ruangannya. Sementara aku ke arah berlawanan, menuju musholla.

In Your majesty, You create differences
In my arrogance, I question Your wisdom
In Your mistery, You create temptation
In my inferiority, You make me more than I am
So here I am, surrender me in the agony of Your love, surrender me in the irony of Your love

Video
1

Another Love

I wanna sing a song, that’d be just ours
But I sang ‘em all to another heart
And I wanna cry, I wanna fall in love
But all my tears have been used up

On another love, another love
All my tears have been used up

I wonder how bad was his heart broken? And at last, is he able to love wholeheartedly again after all his tears have been used up for his previous love?

3

Makan Unyu #3: Sakana

Kali ini saya akan meriviu salah satu restoran Jepang favorit saya, yaitu Sakana, yang terletak di lantai Basement gedung Midplaza 1. Bagian depan Sakana ini dicat dengan warna hitam. Untuk masuk ke bagian dalam restoran, kita harus melewati lorong yang di bagian sebelah kirinya digunakan untuk memasak takoyaki dan okonomiyaki (btw, takoyaki Sakana ini enak). Di ujung sebelah kanan lorong adalah pintu masuk untuk ke bagian dalam restoran. Biasanya di sana ada pramusaji yang menyambut pelanggan dan bertanya untuk berapa orang. Setelah itu, pramusaji akan mengantarkan pelanggan ke bilik tempat makan.

Tempat makan di Sakana ini tidak seperti restoran lainnya yang berupa open space dengan meja-meja, melainkan berupa bilik-bilik kayu yang luasnya berbeda-beda. Berhubung biasanya saya makan berdua saja, kami lebih sering mendapat bilik kayu yang agak kecil dengan pintu kecil yang mirip ruangan minum teh. Setelah duduk, pramusaji akan membawakan washcloth dan bertanya apakah kami ingin ocha dingin atau ocha panas. Tidak lama kemudian, pramusaji akan membawakan minuman pesanan kami dan menanyakan pesanan makanan.

image

Biasanya saya makan di Sakana pada jam makan siang, jadi saya selalu memesan lunch set menunya yang lebih beragam ketimbang di Hon Zen. Menu makan siang favorit saya di Sakana adalah salt-roasted salmon set yang terdiri dari salad, makanan pembuka, acar, sup miso, nasi, dan sepotong salmon. Salad di Sakana ini segar dengan dressing yang agak ‘berat’ dan gurih, nyam! Makanan pembukanya yang sampai sekarang saya nggak tahu namanya biasanya terdiri dari daging, kentang, dan wortel dengan rasa gurih dan manis. Acarnya berganti-ganti, saya paling suka acar timunnya sih. Untuk rasa salmonnya sendiri ya gitu, manis asin dan ga terlalu berminyak. Sepertinya ga dipanggang terlalu lama, jadi warnanya masih pink segar.

image_2

Selain salmon, Sakana juga menyediakan saba alias makerel dan sanma (saya gatau bahasa Indonesianya). Saba dan sanmanya enak juga. Tapi agak ribet juga sih makan sanma pakai sumpit, kadang-kadang tulangnya terbawa :lol:

sanma

Meskipun yang sering saya makan di Sakana ini adalah menu ikan, tapi sebenarnya ada banyak menu lainnya, seperti katsu, tempura, mi, sashimi, dan yakitori. Cuma ya gitulah, saya seringnya makan si salmon itu kalau makan di Sakana. Saya pernah coba menu lainnya seperti katsu dan tempura. Lumayan enak sih, tapi saya tetap lebih suka salmon :lol: Selain ada yang enak, ada juga yang nggak enak sih menurut saya. Waktu itu saya memesan oyakodon dan rasanya… astaga.. manis amis gimana gitu, akhirnya nggak saya habiskan dan saya berakhir makan onigiri supaya ga terlalu lapar T__T

Untuk makanan penutup di Sakana, biasanya sih dapat tiga macam buah potong, yaitu semangka, pepaya, dan melon. Tapi kadang-kadang dapat castella, semacam kue bolu khas Nagasaki.

image_1

Secara keseluruhan sih saya suka rasa makanan, suasana, dan pelayanan di Sakana. Tapi, salah satu teman saya kurang suka Sakana dan lebih suka Kado++ yang sama-sama di bawah naungan Kawano Group (riviu Kado++ menyusul). Sebenarnya persoalan selera aja sih. Sakana ini Jepang banget kalau menurut saya, nggak banyak bumbu yang dipakai, jadi cenderung hambar untuk lidah beberapa orang. Nggak ada pula menu fusion di sini, jadi yang penggemar rasa makanan yang ‘ramai’, siap-siap aja untuk kecewa. But for me, it’s one of my favorite restos in town :-D

—-
Sakana
Lokasi : Lt. Basement Gedung Midplaza 1, Jl. Jend. Sudirman Kav.10-11
Harga : Lunch set dimulai dari Rp.60,000.++ (belum termasuk pajak & service fee. Diskon 10% jika ada Midplaza card)
Pembayaran : Tunai dan kartu kredit Visa, Mastercard, dan JCB.
Jam Buka: Senin-Minggu, 11:30 – 14:00 untuk makan siang & 17:30 – 22:00 untuk makan malam.

5

Makan Unyu #2: Kaihomaru

Duh, saya gatau deh sebenarnya postingan ttg Kaihomaru ini layak dimasukkan ke Makan Unyu atau ga, soalnya ada banyak materi lainnya yang lebih cocok untuk tema Makan Unyu. Tapi, mumpung masih menggebu-gebu, yaudah lah ya, hajar aja.

Setelah berbulan-bulan cuma bisa liat plangnya, akhirnya Kaihomaru di Citywalk buka beberapa waktu lalu dan baru tadi siang saya mampir makan di sana. Dari luar sih tampilan restorannya biasa aja, cuma ada kayu-kayu warna terang dan di pintu masuknya ada noren gelap bertulis 海宝丸. Masuk ke dalam langsung disambut staf yang langsung mengantar saya dan partner makan saya ke meja yang kosong. Interiornya sederhana sekali, cuma meja dan kursi kayu biasa dan dibentuk semacam bilik-bilik gitu, mirip seperti kedai-kedai makan di Jepang. Selain di meja berbilik, ada juga meja counter untuk yang datang sendiri dan memesan sushi. Waktu saya datang, restoran cukup ramai dengan 80-90% pengunjungnya adalah orang Jepang. Kayaknya mereka semacam euforia gitu deh nemu tempat baru buat makan siang.

Setelah duduk, kami diberi buku menu dan lembaran menu terpisah khusus paket makan siang.  Kami juga langsung ditanya ingin ocha dingin atau panas. Kami langsung memesan ocha dingin dan kembali melihat-lihat buku menu.

Image

Tulisan di menu isinya kanji dan romaji, ga ada keterangan dalam bahasa Inggris tentang makanan yang ada. Agak repot sih kalau ga familiar dengan makanan Jepang – -; Menu yang disajikan beragam, dari sashimi, nigiri sushi, cirashi, maki, katsu, tempura, sampai kushiyaki. Saya dan partner makan saya akhirnya memilih menu yang sama dari paket makan siang, yaitu sakeshiyoyaki alias salt-roasted salmon yang sering banget jadi sarapan saya ketika di Fukuoka. Setelah memesan, datanglah appetizer berupa sayuran dan daging (lupa namanya apaan) yang langsung saya makan tanpa difoto karena keburu lapar. Tidak lama kemudian, datang salad yang menurut saya rasanya biasa saja.

Makanan saya datangnya lamaaaaaa sekali. Saya sampai kesal karena dua meja di dekat saya yang datang belakangan malah dapat pesanannya duluan. Saya akhirnya menanyakan ke staf yang ada dan dijawab bahwa pesanan saya lama karena butuh waktu lama untuk memasaknya. Setelah 40 menit menunggu (dan beberapa kali protes) akhirnya makanan kami datang juga.

Kaihomaru

Ukuran salmon, sup miso, dan porsi nasinya cukup besar dibanding beberapa restoran lain dengan menu yang sama. Tsukemono alias acarnya cuma sedikit dan rasanya biasa saja. Salmonnya cukup segar dan enak, nasinya juga pulen dan mudah diambil dengan sumpit. Sup misonya berisi wakame dan tahu putih, tidak terlalu pekat, jadi enak untuk diminum. Setelah makan dengan kebut-kebutan karena waktu yang terbatas, kami pun langsung membayar pesanan kami dan berkomentar bahwa seharusnya makanan yang datang tidak selama itu.

Kesimpulannya, Kaihomaru Citywalk ini sebenarnya populer di antara para expat Jepang karena “nebeng” nama Kaihomaru Melawai. Karena baru sekali datang, sulit untuk menilai apakah makanannya enak atau ga, tapi salt-roasted salmonnya bisa dibilang standard. Pelayanannya payah karena kurang sigap dan banyak alasan. Waktu saya bilang ke teman kantor saya soal ini, teman saya bilang ia mengalami hal yang sama yaitu pelayanan lambat dan makanan tidak kunjung datang. Waktu itu ia hanya mendapat ocha dan setelah satu jam tidak mendapat makanan memutuskan untuk membatalkan pesanan saja. Tampaknya staf yang ada lebih mengutamakan tamu expat ketimbang tamu lokal padahal rekan makan saya kurang sipit gimana lagi coba. Karena yang saya perhatikan memang demikian. Sayang sekali, dengan harga dan rasa yang tidak jauh berbeda, pelayanan yang ada payah sekali dibanding dengan restorang Jepang lain di sekitarnya seperti Honzen, Sakana, Kado, Misticanza, Taichan, dan Udonku (review mengenai tempat-tempat ini menyusul).

—-

海宝丸 (Kaihomaru)
Lokasi : Sudirman Citywalk 1st Floor Unit 11
Harga : Lunch set dimulai dari Rp.62,000.- (belum termasuk pajak & service fee. Diskon 10% jika ada kartu anggota Papaya)
Pembayaran : Tunai atau dengan kartu kredit BCA.

4

2013-2014

I want to be your backpack.
photo

I want to share sweetness with you. I want to see your sparks.
2013

I want to share my happiness to you.
1526545_10200893583216034_706592873_n

Even though only for a while. Even though it won’t last forever.

2

Tea Time at TWG Tea Salon & Boutique

Belakangan ini saya makin sering main ke mana-mana. Tapi, ya gitulah, saya jarang motret ataupun share saya lagi di mana dan ngapain.

Kemarin-kemarin saya sempat beberapa kali pergi ngopi dan ngeteh bareng rekan ngemil saya. Karena bosan juga dengan tempat yang itu itu aja, kami googling tempat baru di sekitaran Jakarta untuk duduk dan ngobrol santai. Sudah nemu beberapa tempat, tinggal didatangi dalam waktu dekat dan semoga bisa saya ulas di sini.

Sementara itu, postingan kali ini saya mau membahas soal TWG yang pernah saya datangi sekitar dua bulan lalu (iya, telat banget emang, tapi drpada ga dibahas sih).

Iseng-iseng jalan sore di PS dan udah bingung mau apa, akhirnya saya mampir ke TWG yang letaknya ada di lantai dasar depan SOGO. Jadi, kalau dari pintu utama PS tinggal jalan ke arah kiri aja. Di sebelah kiri sebelum SOGO, nanti keliatan deh TWG yang berpendar keemasan dengan pelayan-pelayan berbaju hitam dan bercelemek putih.

Waktu itu saya datang sendiri dan saya lihat ada antrian di pintu depan. Saya tanya ke staff yang ada di situ apakah antriannya masih lama. Tapi dijawab kalau untuk satu orang, ada yang kosong. Saya pun langsung diantar ke meja.

Tempatnya bagus sih, berpendar keemasan dan warna-warni elegan gitu (lupa motret). Di bagian kiri dari pintu depan ada susunan teh yang dijual, sementara di sebelah kanan adalah meja-meja untuk tamu yang minum teh di TWG. Rapi, cantik, tapi ga terlalu besar dan jarak antara meja satu ke lainnya sempit banget. Jadi, lupakanlah kalau mau ngeteh santai sambil gosip, soalnya pasti bakal kedengeran sama orang meja sebelah. Waktu saya datang, rame banget dan isinya mbak-mbak atau ibu-ibu bergaya sosialita. Ada juga sih pria-pria mesos klimis dan anak muda gaul di situ. Untungnya waktu itu saya ga kucel-kucel banget dibanding biasanya, jadi ga terlalu out of place.

Setelah duduk, saya diberi buku menu. Pilihannya banyak sekali, saya sampai bingung. Tapi kalau sore hari ada paket afternoon tea. Saya pesan Chic Royal Set yang isinya sandwich, scones, dan satu poci teh yang dipilih sendiri. Saya lupa sih ya waktu itu saya pesan teh apa. Saya ga terlalu paham soal teh, jadi saya minta rekomendasi dari staff yang melayani saya. Staffnya ramah sekali dan bertanya saya suka teh yang ringan atau pekat, rasa buah atau gimana.

TWG

Jadi, isinya adalah tiga finger sandwich plus salad, dua scones dengan tea jelly and whip cream yang ditata di piring susun cantik, dan satu poci teh. Finger sandwichnya rasanya lumayan. Udangnya segar, smoked salmonnya juga enak, sayangnya porsinya mini. Untuk scones-nya, susunya terasa banget. Luarnya enak, tapi dalamnya agak starchy gimana gitu. Saya ga habis makan sconesnya. Tea jelly buat olesan scones-nya enak banget. Jadilah itu scones ga habis, tapi tea jelly-nya habis :lol:

Untuk tehnya, rasanya segar, ringan, dan ga terlalu pahit di mulut. Satu poci teh itu kayaknya bercangkir-cangkir deh. Saya sampai kembung minumnya.

TWG lumayan sih ya kalau buat ngeteh. Tapi, ga bisa untuk duduk-duduk lama sambil baca atau gosip seru. Tempatnya sempit dan ramai sih. Untuk rasa, tehnya oke, tapi scones-nya biasa banget. Besok-besok kalau saya ke sana lagi, saya mau pesan tehnya aja.

——

Lokasi : Level 1, Plaza Senayan, Unit 109A, Jl. Asia Afrika 8, sebelah SOGO.

Harga : Satu poci teh dimulai dari Rp. 42,000.- Afternoon tea set  pukul 15.00 – 18.00. Chic Royal Set Rp. 125,000.- (belum termasuk pajak & service fee 21%)