Rule the World

Bosan setengah mati menyimak perdebatan ga penting dari die hard fans kedua kubu. Semoga setelah hari ini, ga ada lagi debat ga penting macam gitu. Yang menang biarkan menang. Yang kalah ya ngalah saja.

Sejak awal, saya sudah memantapkan hati untuk memilih salah satu calon. Saya bukan swing voter, tapi saya juga enggan gembar-gembor tentang pilihan saya. Seperti halnya pilihan saya terhadap agama, pilihan politik saya pun urusan saya dan saya tidak punya kewajiban apapun untuk menjelaskan pilihan saya tersebut.

Saya berharap capres yang saya pilih bisa jadi RI 1. Tapi, namanya juga politik kan susah ditebak sehingga ada kemungkinan pilihan saya gagal jadi RI 1. Jadi akhinya saya hanya bisa berharap bahwa siapapun pemimpin yang terpilih bisa membuat Indonesia lebih baik dalam segala hal.

Help me to decide
Help me make the most
Of freedom and of pleasure
Nothing ever lasts forever
Everybody wants to rule the world

Nagoya

Nagoya was surprisingly a nice place. I spent two nights and two days in Nagoya, but this post only covers my first night and day in Nagoya as I consider it as the highlights of my Nagoya trip. I originally underestimated Nagoya and decided to go there randomly. But it ended up as one of the best decisions I’ve made for my May trip.

It took about 3.5 hours to reach Nagoya by train using Kintetsu Line from Nara. I had to change trains three times in a really short time, but it’s okay because the directions I’d got from the station master in Nara were very clear. I arrived in Nagoya Station around 7.30 pm and changed the train from Kintetsu to Meitetsu for going to Nishiharu, where I’d stay for a while.

Hikaru picked me up at Nishiharu station and it took about 15 minutes drive to his apartment. The area is so quiet as it’s located quite far from the city centre. He let me sleep in his room while he slept in living room with his camping gear :lol: Hikaru is an aeroplane engineer and  he likes hiking and traveling during his vacant time. Before sleeping, I looked at the ceiling and what I saw was amazing, it’s a picture of cockpit. I saw several aeroplane models, books about aeroplanes, and posters of aeroplanes gears in his living room. But I didn’t expect to see some aeroplane stuffs  being put up in the bedroom ceiling. It amazes me how he really loves his job as an engineer. I guess he knows planes by heart.

IMG_0176

In the morning, Hikaru drove me to Nishiharu station as I would head to the city centre. My first destination was Nagoya castle. It’s the third castle I visited. I can proudly say that I have completed the Sanmeijo course as I already visited all of them. Nagoya castle was surprisingly much much bigger than Kumamoto and Osaka castle. The museum was also awesome though I think the one in Osaka gave more comprehensive details about the warlords in Sengoku period. But still, compared to Kumamoto and Osaka castle, there are more things to see around Nagoya castle.

IMG_0215

Tea house in Nagoya castle area

Tea house in Nagoya castle area.

There were several things I noticed in Nagoya castle area beside its enormous size. First, most of the staffs were older people. They’re so nice and helpful. Some of them spoke English and asked me where did I come from. I wonder if the management employed them so they could spend time meeting people instead of doing nothing and feeling lonely in their houses. Second, the Honmaru palace is under renovation and visitors can see the process. It’s amazing to see how they keep the historical site. Third, there are several towers that visitors can visit. The view is unquestionably nice :-)

View from the top of castle

View from the top of castle.

View from the one of the tower

View from one of the towers.

After done exploring Nagoya castle, I went to Atsuta shrine. Originally I wanted to go to Osu Kanon, but I took the wrong exit from the castle and the nearest subway station was the one to Atsuta instead of to Osu Kanon. So, it’s easir for me to go to Atsuta.

The gate of Atsuta shrine.

The gate of Atsuta shrine

Atsuta shrine is the second biggest shrine in Japan. The biggest one is Ise shrine in Mie. Atsuta shrine, so far, is the biggest shrine I’ve ever visited. At the time I was there, there was a group of salaryman being blessed by the monks. In the inner area, visitors are prohibited of taking pictures as the sites are considered sacred and part of the shrine’s heart. In the inner part, there are several small shrines and sacred trees. The place was so serene and tranquil, it made me forget that I was actually in a big city. Walking around Atsuta felt like walking in the forest, all green and natural. So far, Atsuta is the best place I’ve ever visited in Nagoya. Next time, I’ll surely go there again :-)

Finding Common Ground

Belakangan ini ada satu cafe di Citywalk yang sering saya kunjungi, namanya Common Ground. Sejak pertama kali datang di awal-awal opening, saya jadi ketagihan ke sana. Akhirnya hampir tiap minggu (atau kadang dua minggu) saya selalu mampir ke Common Ground.

Saat Common Ground baru buka, saya langsung tertarik untuk mampir karena desainnya yang sederhana dan terang. Jujur saja saya agak malas dengan cafe atau restauran yang remang-remang soalnya jadi susah buat baca buku :-| Makanya waktu pertama lihat Common Ground yang terang, saya langsung berpikir bahwa ini bisa jadi salah satu tempat saya buat ngopi sambil baca buku.

Pertama kali datang Common Ground, saya pikir menunya hanya kopi dan cemilan saja, rupanya ada makanan berat juga dan menunya bermacam-macam. Pilihan pertama saya di Common Ground adalah hot cappuccino. Saya suka hot cappuccino di Common Ground karena cukup foamy dan ga terlalu manis. Saya paling malas sama cappuccino yang manis banget dan encer. Kalau macam gitu sih saya bikin kopi seduh sendiri aja :-|

Hot cappuccino

Hot cappuccino

Iced cappuccino

Iced cappuccino

Karena cocok dengan rasa kopi di Common Ground, akhirnya saya jadi nagih datang lagi. Kedatangan berikutnya saya lagi-lagi pesan cappuccino tapi yang dingin. Rasanya ya enak juga, tapi lebih enak yang hangat sih. Saya juga pesan menu all-day-breakfast-nya. Waktu itu saya pesan Two Eggs Any Style yang isinya adalah dua telur yang disajikan dengan dua gaya berbeda *halah* (saya pilih semua telurnya diorak-arik saja), sosis, roti panggang, salad, kentang, dan oseng jamur. Porsinya besar dan bikin kenyang. Sosisnya ga terlalu lembek dan rasanya ringan di lidah, jadi enak banget buat sarapan. Yang paling juara sih oseng jamurnya.. nagih banget.

Two eggs any style

Two eggs any style

Setelah dua kali mampir ke Common Ground, akhirnya saya jadi kebiasaan ke sana, seringnya sih pagi-pagi akhir pekan buat brunch. Setelah beberapa kali ke sana, pilihan menu yang saya coba mulai beragam. Pernah nyoba es cokelatnya, rasanya biasa aja. Mending beli milo dingin :-|

Saya suka kopi sih, tapi bukan pecinta kopi kelas berat yang paham mesin-mesin dan alat pembuat kopi. Saya tahunya sebatas beda espresso, americano, affogato, latte, dan cappuccino saja. Bedanya kopi lampung, aceh gayo, dan mandailing pun saya ga gitu paham sih. Tapi beneran deh, cappuccino, latte, dan macchiato di Common Ground dijamin enak!

Untuk makanannya, saya pernah coba beberapa menunya. Favorit saya sih si Two Eggs Any Style dan Salmon Frittata (ga ada fotonya). Salmon Frittata itu enak, tapi sayang porsinya kecil. Jadi, buat yang makannya banyak macam saya kurang memuaskan :-|

Toast and sausage

Toast and sausage

Breakfast burrito. Guacamolenya kurang berasa.

Breakfast burrito. Guacamolenya kurang berasa.

Overall, pengalaman mampir ke Common Ground selalu menyenangkan. Kopi dan makanannya enak. Pelayanannya pun ramah. Harganya wajar dan yang paling saya suka sih tempatnya terang! After hours selalu ramai, tapi kalau akhir pekan dan di bawah jam 12 siang ga terlalu banyak orang dan nyaman untuk santai-santai :-)

—-
Common Ground
Lokasi : Sudirman Citywalk, Ground Floor.
Harga :- Minuman: IDR 20,000.- to IDR 40,000.-
– Makanan: IDR 30,000.- to IDR 75,000.-
Pembayaran : Tunai, kartu debit, dan kartu kredit.
Jam Buka: Senin-Minggu, buka sejak pagi untuk orang-orang yang mau sarapan :-)

Kereta

Pernahkah kau sedekat ini?
Ku berlari
dan berlari

Pernahkah kau sedekat ini? Ku berlari dan berlari.

Pernahkah kau merasa bahwa apa yang kau inginkan sudah dekat, sangat dekat. Tapi kau begitu takut terluka sehingga kau ingin berlari dan berlari tanpa henti.

Pernahkah kau merasa bahwa sendiri itu tak apa karena kau telah terbiasa dan itu tak akan membawa luka?

Bad Law

Sondre Lerche baru saja mengeluarkan single terbarunya yang berjudul Bad Law. Lagunya catchy dan langsung meracuni saya beberapa hari ini. Rasanya saya ingin berteriak-teriak “baby it’s a bad bad law, it’s a bad bad law geronimo” dengan sepenuh hati. Tiap menonton videonya pun saya ingin sekali menari-nari tanpa peduli di tengah taman.

Saya sudah lama suka Sondre. Sudah lama sekali. Ada banyak kenangan yang saya lalui bersama lagu-lagu Sondre dan saat lagu Bad Law dirilis ini mau tidak mau saya kembali teringat banyak hal. Saya masih ingat bahwa lagu pertama Sondre yang saya dengar adalah Two Way Monologue. Dulu saya melihat video klipnya di MTV. Dulu internet belum segencar sekarang, jadi meskipun suka, saya tidak bisa serta merta mencari di internet dan mengunduhnya. Paling paling hanya bisa ke toko kaset (ketauan banget jadulnya) untuk mengecek apakah kasetnya dijual atau tidak. Yah.. tentu saja tidak :lol: Akhirnya saya melupakan Sondre dan kembali pada N Sync :-P

Sekitar satu atau dua tahun kemudian setelah saya melupkan Sondre, teman saya datang ke rumah. Teman saya ini, karena beberapa hal, hobi numpang makan di rumah saya. Untuk membayar makanan di rumah saya, biasanya dia akan membawakan buku, mp3, komik scanlation, ataupun anime. Karena dia super bawel, biasanya sambil memindahkan isi flashdisknya ke komputer saya, dia akan menjelaskan soal isi flashdisknya. Sebentar-sebentar dia akan bertanya, “lo tau komik blablabla? ini pengarangnya si blablabla, lo pasti suka” atau semacam “ini lo harus dengerin lagu ini, lo pasti suka.” Dan hari itu sambil menyetel sebuah lagu dia bertanya, “lo tau Sondre Lerche ga?” Saat itu karena ingatan saya samar, saya menggeleng. Dia bertanya dengan tidak terpercaya, “eh gatau? Tapi lagu ini tau?” Dan lagu yang dimainkan adalah Two Way Monologue. Ingatan saya tentang Sondre pun kembali. Saya bilang saya suka lagu itu tapi saya tidak tahu siapa penyanyinya. Akhirnya dia mengkopikan beberapa lagu Sondre yang dia punya ke komputer saya. Dan saya ingat, lagu pertama yang dia kopikan adalah Say It All. Sejak itu saya menyukai Sondre.

Tahun demi tahun berlalu. Banyak hal terjadi. Jatuh hati, bahagia, kecewa, patah hati, sedih, semua saya lalui bersama banyak hal, termasuk lagu-lagu Sondre Lerche. Love You, Call It Love, The Curse of Being in Love, Minor Detail, I’ll be Ok, Track You Down, dan akhirnya Ricochet yang menemani saya patah hati. Saat ini, love interest saya pun menyukai Sondre. Tapi, rasa sukanya terhadap Sondre tidak sebesar rasa suka saya dan teman yang memperkenalkan Sondre pada saya. Ada banyak hal yang berubah, tapi saya rasa sampai kapanpun, setiap mendengar lagu-lagu Sondre Lerche ingatan saya kembali ke saat usia saya belasan, ke saat saya dan teman saya duduk menghadap monitor sambil membuka Winamp, ke saat dia bertanya, “lo tau Sondre Lerche ga?” Dan sekarang, saat Sondre merilis single baru, yang ingin saya lakukan adalah bertanya padanya, “lo udah denger Bad Law? Catchy banget ya!” Tapi yang saya lakukan adalah bertanya ke love interest saya, “hey, have you listened to Sondre’s latest song? Dope!”

I straddled out on the stand
My defense scrawled on my hand
Killed time and time again but then I lost again

When crimes are passionate can love be separate?

Nara

IMG_0180誰かを感じながら眺めた. 優しさが胸の中暴れた.

 

IMG_0184この時間のせい?

 

108_9639この天気のせい?

 

108_9640この景色のせい?

 

108_9638この年齢のせい?

 

2014-05-28 14.09.55何でもない時間が素敵で

 

IMG_0188 久々のいい時間

 

—-
The pictures were mostly taken in Nara. But I spent my morning at Shu’s apartment in Senbonkitaoji, Kyoto. The first picture is Shu and Shun (Shu’s roommate) leaving for uni. The second picture is early morning (it was 5.30 am) view from his balcony.

The words under the pictures are lyrics of Evisbeats’ song, the title is いい時間 which means “good time.” It’s a nice to song, click here to listen to the song.

The song reminds me of Shu, as he is a hip-hop and R&B lover (well, now lots of things remind me of him and Shun). Every time I listen to the song (or other Evisbeats’ songs), it brings lots of good memories about my time in Japan.

Osaka

2014-05-26 14.57.27
Lovers, keep on the road you’re on.

2014-05-25 20.56.46
Runners, until the race is run.

IMG_0007
Soldier, you’ve got to soldier on.

108_9468
But I have no doubt. One day, we are gonna get out.

108_9439
Tonight maybe we’re gonna run, dreaming of the Osaka sun.

IMG_0065
Dreaming of when the morning comes.

108_9477
But I have no doubt, one day the sun will come out.
—-

The pictures were taken around Nanba, Dotonbori, Osaka Castle, and Osaka Kaiyukan.

The words under the pictures are lyrics of Coldplay’s song, the title is Lovers in Japan. It was a bit rainy when I was in Osaka, so the “dreaming of the Osaka sun” is matched with the situation. Even though it’s a bit rainy, I had a really good time in Osaka with some friends and I wish to meet them again soon, real soon :-)